Peningkatan Kapasitas Public Speaking Bagi Pendamping Wisata Di Desa Wisata Konservasi Sei Sembilang

  • Adi Inggit Handoko Universitas Sriwijaya
  • Rindang Senja Andarini Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
  • Harry Yogsunandar Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
  • Muh. Nizarsohyb Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
  • Muhammad Hidayatul Ilham Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
Keywords: Sei Sembilang, Pemandu Wisata, Public Speaking

Abstract

Desa Wisata Konservasi Sei Sembilang merupakan kawasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis konservasi. Kekayaan ekosistem yang dimiliki mencakup hutan bakau (mangrove), kawasan konservasi satwa, dan keindahan alam pesisir yang masih alami. Hutan mangrove sendiri memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, antara lain sebagai penahan abrasi, penyaring alami air laut, habitat satwa pesisir, dan penyimpan karbon biru. Selain fungsi ekologisnya, mangrove juga memiliki nilai sosial dan edukatif yang tinggi jika dimanfaatkan secara berkelanjutan. Potensi ini menjadikan hutan mangrove sangat relevan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif yang berbasis konservasi.Agar potensi besar kawasan ini tersampaikan secara optimal kepada wisatawan, diperlukan pendamping wisata yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, percaya diri, serta mampu menyampaikan informasi secara menarik dan persuasif. Oleh karena itu, salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui penyelenggaraan pelatihan atau workshop public speaking bagi para pendamping wisata. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat citra kawasan sebagai destinasi konservasi yang informatif, serta memastikan bahwa pesan-pesan pelestarian lingkungan dapat disampaikan secara tepat dan berdampak kepada setiap pengunjung. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini melibatkan beberapa langkah yaitu studi lapangan, telaah pustaka, perencanaan program, pembuatan materi, menentukan narasumber, pendampingan, dan penyebarluasan hasil. Khalayak sasaran terdiri dari masyarakat Sei Sembilang dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang dimiliki oleh masyarakat Sei Sembilang. Hasil dari pengabdian ini adalah masyarakat Sei Sembilang memiliki kelompok wisata yang dipilih melalui pemilihan Bujang Gadis Sei Sembilang.kompetensi yang telah dimiliki oleh Pokdarwis diperoleh melalui ajang pemilihan Bujang dan Gadis Sei Sembilang. Pada masyarakatnya, pemahaman terkait public speaking belum secara baik hal ini dipengaruhi pada latar belakang pendidikan, penggunaan bahasa lokal yang dipakai dalam keseharian yang membuat adanya kesulitan dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemandu wisata.

References

Liburd, J. J., & Becken, S. (2017). Values in nature conservation , tourism and UNESCO World Heritage Site stewardship. 9582. https://doi.org/10.1080/09669582.2017.1293067

Ozali, I., An, C., & Pahrudin, C. (2022). Sosialisasi Public Speaking Pada Pengelolaan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Ria u Management of Tourism Affairs Department of Riau Islands Province. 2(2), 56–67.

Prayogo, M. D. (2024). PELATIHAN PUBLIC SPEAKING MENUJU TOUR GUIDE PROFESIONAL BAGI PELAKU PARIWISATA KAMPUNG ADAT SEGUNUNG JOMBANG. 04(05), 59–67.

Putra, T. R. (2013). Peran Pokdarwis dalam Pengembangan Atraksi Wisata. Jurnal Pembangunan Wilayah Kota, 9(September), 225–235.

Rijal, S., Zainal, F. A., & Badollahi, M. Z. (2020). Potensi Hutan Mangrove Sebagai Daya Tarik Wisata. 2(2), 153–159.

Roberts, R. M., Jones, K. W., Seidl, A., Ek, A., Smith, H., Roberts, R. M., Jones, K. W., Seidl, A., Ek, A., & Smith, H. (2017). Conservation finance and sustainable tourism : the acceptability of conservation fees to support the Tambopata National Reserve , Peru. 9582. https://doi.org/10.1080/09669582.2016.1257630

Sobra, H., & Yesicha, C. (2023). Komunikasi Partisipatif Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ) dalam Pengembangan Wisata Air Terjun Batu Dinding. 5.

Published
2026-05-14
Section
Articles